Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

Titik Jeda

Kerangka jiwanya bergelut dengan pikirannya Menobatkan pikiran kusut sebagai sang juara Sembari merintih, tubuhnya berkata, aku kalah , aku lelah Ia tak ingin berbuat apa-apa Mungkin karena terlampau lelah Pun ia tak sanggup berkata-kata Seolah hasrat berkata memang telah musnah Terhadap yang dirasa, menolak diungkap barang sekata Percuma, gumamnya dipadu sirat senyum tipis sebagai bingkainya Sesadarnya ia tau dunia sedang tidak beramah tamah untuk menyapa Maka, biar saja Sejak kapan, ia kalah dalam hal memendam? Setiap sulut emosi yang berkecamuk selalu dipaksa padam, bukan ? Mimpi-mimpinya pun tak lagi asing dengan realita pahit yang terus merajam Mengajarinya paham atas ketidakpahaman Mari aku ingatkan, Dalam jiwa mungilnya sudah bersemayam hati yang lebam dan mati rasa Hasil tempa kejamnya dunia Kau tak perlu repot mengiba! Alih-alih asing, sungguh ia sudah terbiasa dengan ini semua Dan dalam sekian jeda, ia siap bangkit dengan daya terbarunya —  DE.

Membunuh Hantu-Hantu Patriarki!

Merupakan kompilasi esai karya Dea Safira, seorang perempuan berprofesi sebagai dokter gigi namun juga aktif menyuarakan feminisme berbasis media digital seperti  voxpop.id . Ia juga berlakon sebagai perempuan di balik akun instagram feminisme dengan ribuan  followers . Melalui bukunya yang berjudul “ Membunuh Hantu-Hantu Patriarki ” ini, Dea berupaya menyuarakan dan menyadarkan tentang kesetaraan dalam keberagaman. Sejak kecil, semboyan “ Bhinneka Tunggal Ika ” yang bermakna  Berbeda-beda Namun Tetap Satu Jua  telah ditanamkan di kepala kita. Ternyata, ibu pertiwi sejak awal sekali sudah mendambakan negara yang kaya budaya dan tetap satu dalam perbedannya. Sayangnya, praktek memang tak semudah berkomat-kamit teori. Apa yang selama ini kita rasakan adalah keberagaman ini justru dipaksa untuk diseragamkan. Padahal, seperti yang Dea katakan, perbedaan sangat dibutuhkan untuk menghapus persaingan yang tidak sehat. Berangkat dari contoh ringan sehari-hari, Dea menyentuh koridor hidup y

Sekolah Dibubarkan Saja!

Sudahlah, untuk apa capek-capek belajar, toh, menjelang Ujian Nasional kunci jawaban akan marak beredar. Katanya, kunci didapat dari ‘orang dalam’. Sekolah itu tidak adil. Sekolah yang bersifat Jawasentris—bukan, lebih sempit lagi, Jakartasentris—menuntut seluruh muridnya untuk keluar dari institusi pendidikan dengan predikat lulus 100%. Tapi buta pada realita fasilitas tiap sekolah yang tak senada. Bagaimana mungkin menyeragamkan indikator kelulusan padahal fasilitas yang didapat untuk meraih kelulusan itu, berbeda-beda dan tak merata adanya? Lebih baik, sekolah digantikan saja dengan lembaga-lembaga swasta bimbingan belajar (bimbel). Melalui lembaga bimbel, kita diajarkan jalan pintas mengerjakan berbagai soal pelajaran. Bahkan, diberitahu trik-trik cepat memilih jawaban opsional dan hitungan. Fenoma kurikulum yang rumit dan kerap berganti pun menjadi tidak efektif untuk diterapkan pada siswa. Ekstremnya, mungkin dilakukan agar pemimpinnya memiliki bahan untuk dipaparkan terk

Memperjelas Kacamata Pendidikan: Bukan Hanya Tanggung Jawab Tenaga Pengajar

“ Jadikan setiap tempat sebagai sekolah, dan jadikan setiap orang sebagai guru. ” Ki Hajar Dewantara, Pahlawan Nasional, Bapak Pendidikan Republik Indonesia. Bidang keilmuan dan pendidikan merupakan senjata hidup bagi umat manusia. Telah sejak lama ilmu pengetahuan dan pendidikan menjadi sorotan mata dunia dalam upaya menciptakan peradaban manusia yang hidup menggunakan akal dan perilaku penuh adab. Bangsa yang tidak cerdas, berarti membuka jalan untuk ditindas. Hidup senantiasa diinjak bangsa lain dan dijajah di tanah sendiri manakala tak cukup cakap menjalankan berbagai strategi bernegara. Bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, termasuk aspek pendidikan, dan segala hal ikhwal dalam hidup, bertumpu atas satu, yaitu ilmu. Di Indonesia, alur cerita menyebarkan ilmu pengetahuan dan menegakkan pendidikan yang merdeka bukanlah hal yang gampang dilakukan. Tak cukup diarungi berbagai polemik, prosesnya ini tak sungkan-sungkan meneteskan darah para tokoh heroik dibaliknya. Rade

Mei, Bumi, Diri.

Selamat datang kembali, Mei. Mungkin banyak yang biasa saja atas hadirmu, Namun tak sedikit yang bersuka cita atas penantian hadirmu, Aku, adalah salah satu sosok yang menanti itu. Menjelang setengah tahun berlalu, Banyak duka merundung. Mungkinkah semesta kian gemetar menampung? Benarkah, semesta tak lagi berkenan atas kami? Ciptaan-Nya yang terbaik, sebagai khalifah di muka bumi? Walau kami sadari, hanya menggerogoti ruang bumi setiap hari. Bagaimana pun, mohon jangan dahulu berhenti. Banyak yang masih belum kami kejar, pun gapai. Ah! Lagi, Kami masih terus menyakiti bumi. Tak kunjung kenyang memberi makan keegoisan kami. Sadar. Namun tak henti dilakukan. Bumi, sudi kiranya kau memaafkan? Melalui Mei, Semoga, semesta yang tengah terluka dapat pulih dalam detak waktu mu. Semoga, setiap hati yang berduka dapat bahagia dalam gulir masa mu. Mei, Aku hadir dalam ruang waktu mu. Kau tahu mendalam atas keluh ku. Kau pun ja

Codex Hammurabi, Mahakarya Raja Babilonia

Gambar
Codex Hammurabi atau Undang-Undang Hammurabi adalah aturan hukum yang dibuat oleh Hammurabi, salah seorang raja yang terkenal karena kesuksesannya memimpin kerajaan Babilonia Lama. Babilonia merupakan salah satu kota terbesar di zaman kuno yang berdiri di tepi Sungai Efrat, dekat wilayah yang kini disebut Al Hillah di Irak. Terciptanya kehidupan bernuansa tertib pada masa pemerintahannya diperoleh dari kemahirannya menciptakan hukum yang jelas dan kepemimpinannya yang tegas. Kala pemerintahannya, ia meletakkan Codex Hammurabi persis di tengah pusat kota Babilonia. Tujuannya agar penduduk Babilonia mengetahui dan mematuhi hukum yang ada. Walaupun kondisi saat itu masih banyak penduduk yang tuna aksara, namun penyaluran hukum Hammurabi tetap berlangsung cepat dikarenakan para elit kerajaan yang menyampaikan secara lisan kepada masyarakat Babilonia, dan dari mulut ke mulut aturan ini pun tersebar merata. Codex Hammurabi merupakan prasasti yang diukir di atas lempengan batu hita

Menyerah adalah Bibit Kalah, Berjuang adalah Peluang Kemenangan

Ditengah pandemi Covid-19 yang sedang melanda tanah manusia ini, banyak sekali hikmah yang dapat kita ambil. Polusi udara dan polusi suara yang jauh berkurang, sebagai waktu untuk bumi memulihkan diri. Kita yang terlalu sibuk dengan rutinitas sehari-hari, diberi waktu beristirahat mengejar materi. Dan saya, diberi waktu lagi menatap layar untuk berbagi cerita melalui aksara. Bukan tulisan yang begitu baru. Postingan ini merupakan jawaban yang pernah saya tulis di platform Quora. Namun kali ini, saya akan sedikit melakukan penambahan, sesuai dengan hal-hal yang sedikit banyaknya sudah saya lewati sejak terakhir saat saya memposting tulisan tersebut. Kala itu saya menerima pertanyaan seperti ini, " Kenyataan pahit apa saja yang kamu ketahui setelah dewasa? " Singkat, padat, dan jelas. Ketika saya memperoleh notifikasi atas pertanyaan ini, kala itu juga saya tertarik dan langsung membuka handphone . Pertanyaan yang terlihat simpel, namun mampu menarik saya ke keadaan bebera